Menurut Sejarawan NU, Agus Sunyoto, pada zaman Walisongo terdapat tujuh struktur atau golongan masyarakat yang ditetapkan secara unik. Golongan tersebut diukur dari keterikatan seseorang dengan kebutuhan duniawi.

Jejak Wali Songo di Nusantara, khususnya di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura) masih terpatri di benak masyarakat hingga kini. Perubahan yang diajarkannya sudah tentu melahirkan pro-kontra, khususnya dari pihak kerajaan.

Jika menelusuri proses islamisasi di Nusantara, maka kita akan menemukan satu fakta mengejutkan. Pada rentang waktu 800 tahun, Islam tidak bisa diterima pribumi secara massal. Islam hanya dipeluk oleh orang-orang nonpribumi. Yang pribumi hanya satu dua orang saja, jumlahnya tidak banyak.

Peran Wali Songo di Indonesia (baca: Nusantara) dalam mendakwahkan Islam menjadi objek riset yang menarik. Jika dilacak, Sunan Ampel sekeluarga datang ke Nusantara pada 1440-an atau tujuh tahun setelah akhir kedatangan Laksamana Muhammad Cheng Ho pada 1433. Praktis, diasumsikan Sunan Ampel sejak awal sudah berdakwah.